PENANAGGALAN HIJRIYAH, MASEHI DAN
JAWA ISLAM
A.
PENDAHULUAN
Kesatuan aqidah ummat
Islam dengan tauhidnya dituntut implementasinya dalam kehidupan sosial. Tetapi
tidak mudah, banyak aspek yang mempengaruhinya. Salah satunya adalah aspek
astronomi. Dalam agama islam banyak ibadah yang menggunakan perhitungan atau yang
lebih dikenal dengan metode hisab. Dan
ilmu hisab sendiri pastinya bersangkutan dengan sistem penanggalan baik tahun
hijriyah maupun masehi.
Sistem penanggalan hijriyah dimulai sejak tahun 17 hijriyah yaitu pada masa
khalifah Umar bin khattab. Pada masa ini ada beberapa pendapat mengenai standar
perhitungan tarikh. Akan tetapi yang disepakati ialah perhitungan tarikh
islam dimulai sejak hijrah Nabi Muhammad dari Mekah menuju Madinah.[1]
Dan sistem penanggalan
masehi yang pertama namanya adalah kalender yulian namun yang berkembang pada
saat itu baru di kalangan bangsa Romawi saja.[2] Kalender
yulian berlaku lama sekali walaupun masih juga di dapati
kekuraangan-kekurangan.[3] Setelah
itu maka muncullah kalender Gregorius yang mendasarkan tahun matahari
(syamsiah), dan itu barlaku sampai sekarang.[4]
B.
TARIKH (PENANGGALAN) HIJRIYAH
Ada
tiga mcam penanggalan yang berlaku di indonesia, khusussnya masyarakat jawa,
yaitu penanggalan Masehi, Hijriyah, dan Jawa Islam.[5]
Dan pertama disini kita membahas tentang Tarikh Hijriyah.
1.
Sejarah
Tarikh Hijriyah
Bangsa arab telah mempergunakan penanggalan
dengan menamakan tahun-tahun itu menurut peristiwa yang paling penting dan
menonjol yang terjadi di zaman itu. Sebelumnya, mereka memberi nama tahun
pertama Hijriyah itu dengan tahun “Al-iznu” (izin), karena tahun itu
telah diberiksn izin oleh Allah untuk berpindah tempat dari Mekkah ke Medinah.
Tahun kedua dinamai dengan tahun “amar”
(perintah), karena telah diperintahkan oleh Allah untuk berperang melawan
musuh-musuh Islam. Tahun ketiga dinamai dengan tahun “Tamhish” (percobaan),
karena pada tahun itu telah terjadi perang uhud sebagai ujian bagi umat Islam
melalui pertempuran-pertempuran yang mengakibatkan luka-luka parah. Seterusnya
dengan tahun-tahun berikutnya yanng lain-lain sampai kepada tahun wafanya
Rasulullah SAW, hanya mereka memilih nama-nama tahun itu sesuai dengan
peristiwa yang penting terjadi pada tahun itu sendiri.[6]
Dan itu terjadi sebelum islam bangsa arab telah mempergunakan
penanagalan dengan menamakan tahun-tahun itu menurut peristiwa-peristiwa yang
paling penting dan menonjol yang tejadi dizaman itu. misalnya memberi nama
penanggalan dengan tahu “gajah”, karena pada akhir abad ke-5 masehi, wakil
Negus dari Etheopia yang ada di yaman bernama Abrahah dengan mengendarai seekor
gajah yang besar diiringi oleh suatu angkatan prang yang amat besar, yang lebih
besar jumlahnya daripada penduduk Kota Mekkah dan sekitarnya, datang ke Mekkah
untuk menghancurkan ka’bah. Oleh karena itu kejadian ini dianggap sangat
penting didalam tahun itu, maka bangsa arab menamakanlah tahun itu dengan tahun
gajah. Kebetulan tahun itu oleh para ahli sejarah islam meberikan nama kepada
tahun lahirnya nabi kita Muhammad SAW.[7]
2. Permulaan Tarikh hijriyah
Para ulama ahli hisab
sependapat bahwa tarikh Hijriyah baru resmi dipakai sebagai tarikh islam adalah
di masa Umar bin Khatab yaitu pada tahun ke 17 (638 M) setelah Hijriyah.[8]
sejak Umar bin Khattab 2,5 tahun diangkat sebagai khalifah, yaitu
sejak terdapat persoalan yng menyangkut sebuah dokumen pengangkatn Abu Musa
Al-asy’ri sebagai gubenur di basrah yang terjadi pada bulan sya’ban. Mungkinlah
pertanyaan bulan sya’ban yang mana?. Oleh sebab itu, Umar bin Khattab memanggil
beberapa orang sahabat terkemuka guna membahas persoalan tersebut. Agar
persoalan semacam itu tidak terulang lagi maka diciptakanlah penanggalan
Hijriyah. Atas usul Ali bin Abi Thalib, maka penaggalan Hijriyah dihitung mulai
tahun yang didalamnya terjadi hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah.[9]
Dalam sejarah, sebelum menetapkan tanggal 1 hijriyah duluan sudah
ditetapkan nama-nama bulannya. Yaitu bulan pertama awal tahun dengan Muharram,
karena pada bulan tersebut dilarang serbu-menyerbu, serang menyeang, dan
perkelahian. Kemudian memberikan nama dengan nama bulan safar karena mengikuti
nama-nama pasar-pasar perdagangan yang disebut dengan safariyah di Yaman, yang
selalu mereka kunjungi selama bulan tersebut. Dan bulan berikutnya mereka
berikan nama dngan rabi’ul awal dan rabi’ul akhir, yang artinya selesai dengan
nama musim rontok atau musim gugur, yang oleh orang arab menamakannya dengan
rabi’. Kemudian jumadil awal dan jumadil akhir, yang artinya sesuai dengan
musim dingin, sesuai dengan bahasa arabnya yang berarti es dan salju. Bulan
rajab, sesuai dengan perilaku mereka menahan diri dari melakukan permusuhan atau
bertempur. Bulan sya’ban sesuai dengan maknanya yang berati bertebaran dan
berkeliaran untuk mencari makanan atau nafkah. Bulan ramadhan, karena sesuai
pada waktu itu berada dalam keadaan musim panas terik. Bumi menjadi sangat
kering dan rumput-rumput menjai hangus. Bulan syawal, dinamakan demikian karena waktu itulah masanya unta-unta
mengangkat ekornya. Entah apa sebabnya, sehingga bangsa arab memandang bulan
ini adalah bulan yang penuh kesialan, sehingga mereka tidak sekali-kali
melakukan perkawinan dalam bulan itu.tahayyul ini berlangsung sampai datangnya
islam, kemudian islam mengikisnya dengan habis. Bulan zulqa’idah, telah
dinamakan demikian karena merka bangsa arab yang terbiasa menjauhkan diri dari
berperang. Akhirnya bulan zulhijjah, karena dalam bulan ini mereka melakukan
ibadah haji.[10]
Menurut Muhyiddin Khayzin tanggal 1 Muharram tahun 1 H jatuh pada hari
Kamis tanggal 15 Juli 622 M, sebab irtifa’ hilal pada hari Rabu 14 Juli 622 M
sewaktu matahari terbenam sudah mencapai 5 derajat 57 menit. Sedangkan pendapat
yang mengatakan 1 Muharram 1 H jatuh pada hari Jum’at 16 Juli 622 M, karena
pada waktu itu tidak satupun terdapat laporan akan berhasilnya rukyah meskipun
posisi hilal sudah cukup tinggi.[11] Dengan demikian penaggalan hijriyah itu
diberlakukan mundur sebanyak 17 tahun
Penanggalan hijriyah ini berdasarkan pada peredaran bulan mengelilingi
Bumi. Satu kali edar lamanya 29 hari 12 jam 44menit 2,5 detik. Untuk
menghindari adanya pecahan hari maka ditentukan bahwa umur bulan ada yang 30
hari dan ada pula yang 29 hari, yaitu untuk bulan-bulan ganjil berumur 30 hari,
dan bulan-bulan genap berumur 29 hari, kecuali pada bulan ke 12 (Dzulhijah)
pada tahun kabisah berumur 30 hari. Setiap 30 tahun terdapat 11 tahun kabisah
(panjang = berumur 355 hari) dan 19 tahun basithah (pendek = berumur 354 hari).
Tahun-tahun kabisah jatuh pada urutan ke 2, 5, 7, 10, 13, 15 (16), 18, 21, 24,
26, 29 seperti dalam ungkapan dengan angka-angka jumali sebagai berikut ini:
بَ هْ يُ يَجْ يَهْ يَحْ كَاْ كَدْ كَوْ كَطِ
كَبَائِسْ فِيْ كُلِّ لِ
مِنْ هِجْرَةِ
Sedangkan selain urutan tersebut
merupakan tahun basithah.[12]
Dalam buku referensi lain bahwa
tahun kabisah adalah ; 2, 5, 7, 10, 13, 15, 18, 21, 26 dan 29. (11 kali). Dan
tahun basithah adalah ; 1, 3, 4, 6, 8, 9, 11, 12, 14, 15, 17, 19, 20, 22, 23,
25, 27, 28 dan 30. (19 kali).[13]
Adapun pendapat lain tahun hijriyah ialah tahun yang didasarkan
pada perjalanan bulan mengelilingi bumi dan bersama-sama bumi mengelilingi
matahari. Berdasarkan demikian, bulan merupakan objek utama dalam terjadi
tahun-tahun hijriyah,yang disebut tahun qomariah.bulan adalah merupakan
satu-satunya satelit bumi, juga termasuk benda gelap.bentuknya seperti
bumi,tetapi lebih kecil dari bumi.garis tengah kira-kira ¼ dari garis tengah
bumi, yaitu ¼ x 12756 km.(garis tengah bumi) = 3189 km. (garis tengah bulan).[14]
3.
Rumus
perhitungan tarikh hijriyah
Rumus yang digunakan dalam hal ini
adalah istilahi,urfi
Rumus pertama:
Cari
NHH
Int (THs x 354, 367) +
JHH = NHH 1
NHH 1 : 7 = NHH
2
NHH 2 x 7 = NHH 3
NHH 1 – NHH 3 = NHH
NHH (sisanya dimulai
dengan hari kamis)
Sisa NHH
|
Nama hari
|
0
|
Rabu
|
1
|
Kamis
|
2
|
Juma’t
|
3
|
Sabtu
|
4
|
Minggu
|
5
|
Senin
|
6
|
Selasa
|
7
|
Rabu
|
a)
Penjelasan rumus
NHH : Nama hari hijiriyah dari tanggal yang ingin dicari
Int : Interger
(nilai pecahan tidak disertakan)
THs : tahun
hijiriyah yang telah sempurna (tahun sebelumnya)
JHH : Jumlah Hari
Hijiriyah dari tanggal 1 muharram s/d tanggal yang ingin dicari (daftar JHH yang ada ditabel + tanggal yang ingin dicari)
NHH1 : Nama Hari
Hijiriyah yang belum final,(dibulatkan)
NHH2 : Nama Hari
Hijiriyah yang belum final, (dibulatkan)
NHH3 : Nama Hari
Hijiriyah yang belum final.[15]
b)
Tabel
JHH
NO
|
NAMA
BULAN
|
BASITHAH
|
KABISAH
|
1
|
Muharram
|
0
|
0
|
2
|
Shafar
|
30
|
30
|
3
|
Rabi’ul Awal
|
59
|
59
|
4
|
Rabi’ul Akhir
|
89
|
89
|
5
|
Jumadil Awal
|
118
|
118
|
6
|
Jumadil Akhir
|
148
|
148
|
7
|
Rajab
|
177
|
177
|
8
|
Sya’ban
|
207
|
207
|
9
|
Ramadhan
|
236
|
236
|
10
|
Syawal
|
266
|
266
|
11
|
Dzulqa’idah
|
295
|
295
|
12
|
Dzulhijjah
|
324
|
325
|
JUMLAH
HARI
|
354
|
355
|
|
KETERANGAN
Untuk mengetahui kabisah atau
basithah hendaklah angka tahun yang dimaksud dibagi dengan 30. Jika hasil bagi
bersisa sesuai angka-angka dari tahun kabisah, maka tahun itu adalah tahun
kabisah, begitu juga sbaliknya.[16]
Contoh
penggunaan rumus
Soal : hari apakah jatuh tanggal 1
ramadhan 1411 H ?
Rumus : Cari NHH
Int ( THs
x 354, 367 ) + JHH =
NHH 1
NHH 1 : 7 =
NHH2
NHH 2 X 7 =
NHH 3
NHH 1 – NHH 3 =
NHH
Jawab :
Int (
1410 x 354, 367 ) + 237 =
499894,47 =499894
499894
: 7 =
71413,42857 = 71413
71413
x 7 =
499891
499894
– 499891 =
3
NHH = 3
Tanggal 1 ramadhan 1411 H jatuh pada hari sabtu.
C. TARIKH (PENANGGALAN)
MASEHI
1.
Sejarah dan Permulaan Masehi
Kalender Masehi adalah kalender yang mulai digunakan oleh umat Kristen
awal. Mereka berusaha menetapkan tahun kelahiran Yesus atau Isa sebagai tahun
permulaan (tahun 1). Namun untuk penghitungan tanggal dan bulan mereka
mengambil kalender bangsa Romawi yang disebut kalender Julian (yang tidak
akurat) yang telah dipakai berabad-abad lamanya yang berpindah tangan dari
bangsa ke bangsa. Dimana asal mula namanya adalah dari nama penguasa pada masa
itu yang bernama Yulis Ceasar.[17]
Perhitungan tanggal dan bulan pada Kalender Julian lalu disempurnakan lagi pada
tahun pada tahun 1582 menjadi kalender Gregorian.[18] dalam
sejarah pada tahun 1582 ada hal yang menarik perhatian, yaitu saat penentuan
wafat sa al-Masih, yang diyakini oeh rang-orang masehi bahwa peristiwa itu
jatuh pada hari minggu setelah bulan purnama yang selalu terjadi segera setelah
matahari di titik aries (tanggal 21 Maret). Tetapi pada waktu itu mereka
memperingatinya tidak lagi pada hari Minggu setelah terjadi bulan purnama
setelah matahari dititik Aries, namun sudah beberapa hari berlalu.
Hal demikian mengetuk hati Paus Gregorius XIII (Ugo Buogompagni, 1502-1585
M) untuk mengadakan koreksi terhadap penanggalan Yustinian yang sudah berlaku
agar sesuai dengan posisi matahari yang sebenarnya. Atas saran Christopher
Clavius (ahli perbintangan), pada saat hari kamis tanggal 4 oktober 1582 paus
gregorius XIII memerintahkan agar keesokan harinya (jum’at) tidak dibaca 5
Oktober 1582 dan ditetapkan bahwa peredaran matahari dalam satu tahun itu
365,2425 hari, sehingga ada ketentuan baru, yaitu angka tahun yang tidak habis
dibagi 400 atau angka abad yang tidak habis dibagi 4 adalah tahun Basithah (365
hari). Serta ditetapkan bahwa tahu kelahiran isa al-Masih dijadikan sebagai
tahun pertama. Dengan demikian setiap 4 tahun merupakan satu siklus (1461
hari). Maka dikenallah sistem penanggalan ini dengan Gregorian. setiap tahun
ada 12 bulan, yaitu januari, pebruari, maret, april, mei, juni, juli, agustus,
september, oktober, nopember, desember. Bulan ke 1, 5, 7, 8, 10 dan 12
asing-masing berumur 31 hari. Sedangkan lainnya berumur 30 hari, kecuali bulan
ke-2 (pebruari) berumur 28 hari pada
tahun basithah (pendek) dan 29 hari pada tahun kabisah (panjang).[19] ,
setelah itu maka digantilah kalender julian mejadi kalender gregorian.
penanggalan ini berlaku sampai sekarang, walaupun pada tahun 1930 M telah
dicoba menggantikan oleh seorang penggemar kalender yang bernama Elisabeth
Achelis, tetapi belum nampak realisasinya sampai saat ini.[20]
Kata Masehi (disingkat M) dan Sebelum Masehi (disingkat SM) berasal dari
bahasa Arab (المسيح),
yang berarti "yang membasuh," "mengusap" atau "membelai."
(lihat pula Al-Masih). Dalam bahasa Inggris penanggalan ini disebut "Anno
Domini" / AD (dari bahasa Latin yang berarti "Tahun Tuhan kita")
atau Common Era / CE (Era Umum) untuk era Masehi, dan "Before Christ"
/ BC (sebelum [kelahiran] Kristus) atau Before Common Era / BCE (Sebelum Era
Umum).
System kalender Masehi adalah salah satu system penanggalan yang dibuat
berdasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari (syamsiah solar system)
yang penaggalannya dimulai semenjak kelahiran Nabi Isa Almasih as. (sehingga
disebut Masehi ;Masihi). Nama lain dari kalender ini adalah kalender Milladiah
(kelahiran).
Melakukan perhitungan untuk menentukan hari dan pasaran untuk tiap-tiap
awal bulan masehi. Perhitungan untuk mencari hari dan pasaran ini dapat
dilakukan dengan beberapa cara; Antara lain:
1) Ketentuan Umum
a)
1 tahun masehi = 365
hari (basithoh), februari = 28 hari atau 366 hari (kabisat), februari = 29
hari.
b)
Tahun kabisat adalah
bilangan tahun yang habis dibagi 4 (misalnya 1992, 1996, 2000, 2004), kecuali
bilangan abad yang tidak habis dibagi 4 (misalnya 1700, 1800, 1900, 2100 dst),
selain itu adalah basithoh
c)
1 siklus = 4 tahun
(1461 hari).
d)
penyesuaian akibat
anggaran Gregorius sebanyak 10 hari sejak 15 oktober 1582 M serta penambahan 1
hari pada setiap bilangan abad yang tidak habis dibagi 4 sejak tanggal
tersebut, sehingga sejak tahun 1900 sampai 2099 ada penambahan koreksi 13 hari
(10 + 3).[21]
2) Menghitung Hari dan
Pasaran
Menghitung hari dan pasaran pada tanggal 1 januari suatu tahun dengan cara:
a)
Tentukan tahun yang
akan dihitung
b)
Hitung tahun tam, yakni
tahun yang bersangkutan dikurangi satu.
c)
Hitung berapa siklus
selama tahun tam tersebut, yakni interval (tahun tam : 4)
d)
Hitung berapa tahun
kelebihan dari sejumlah siklus tersebut
e)
Hitung berapa hari
selama siklus yang ada, yakni siklus x 1461 hari
f)
Hitung berapa hari
selama tahun kelebihan tersebut, yakni kelebihan tahun x 365 hari atau 1 tahun
= 365 hari, 2 tahun = 730 hari, 3 tahun = 1095 hari, 4 tahun = 1461 hari.
g)
Jumlahkan hari-hari
tersebut dan tambahkan 1 (tanggal 1 januari)
h)
Kurangi dengan koreksi
Gregorian, yakni 10 + … hari
i)
Jumlah hari kemudian
dibagi 7, selebihnya dihitung mulai hari sabtu atau 1 = sabtu, 2 = ahad, 3
=senin, 4 = selasa, 5 = rabu, 6 = kamis, 7 = jum’at, 0 = jum’at
j)
Jumlah hari kemudian
dibagi 5, selebihnya dihitung mulai pasaran kliwon atau 1 = kliwon, 2 = legi, 3
=pahing, 4 = pon, 5 = wage, 0 = wage.[22]
3) Contoh Perhitungan
Tanggal 1 januari 2004 M
Waktu yang telah
dilalui = 2003 tahun, lebih 1 hari atau 2003 : 4 = 500 siklus, lebih 3 tahun,
lebih satu hari.
500
siklus =
2003 tahun x 1461 hari =
730500 hari
3
tahun =
3 x 365
hari
=
1095 hari
1
hari
=
1 hari
Jumlah
= 731596 hari
Koreksi Gregorius = 10 +
3 =
13 hari
Jumlah
= 731583 hari
731583 : 7 = 104551, lebih 6 = kamis, (dihitung mulai sabtu)
731583 : 5 = 146316, lebih 3 = Pahing, (dihitung mulai kliwon)
Jadi tanggal 1 januari 2004 jatuh pada hari kamis pahing.
D. TARIKH PENANGGALAN JAWA ISLAM
1. Sejarah dan Pengertian Penanggalan Jawa
Di pulau Jawa khususnya, pernah berlaku sistem penanggalan Hindu, yang dikenal
dengan penanggalan “Soko”, yakni sistem penanggalan yang didasarkan pada
peredaran matahari mengelilingi bumi. Permulaan tahun soko ini ialah hari Sabtu
( 14 Maret 78 M ), yaitu satu tahun setelah penobatan prabu Syaliwahono ( Aji
Soko ) sebagai raja di India. Oleh sebab itulah penanggalan ini dikenal dengan
penanggalan Soko.[23] Mula-mula tahun Jawa dihitung dengan peredaran
matahari dan berwindu 30 tahun dengan nama tahun Hindu-Jawa (Saka). Sejarah
pemikiran hisab rukyah mazhab tradisional ala Islam-Jawa ( Kejawen ) atau dalam
bahasa Geertz disebut Religion of Java,
ini berasal dari pemikiran (kalender) Aji Saka yang dimulai pada tahun
tanggal 14 Maret 78 masehi. Kalender Aji Saka ini diperbaharui oleh Sultan
Agung Hanyokrokusumo[24],
yakni disesuaikan dengan perhitungan Lunar (Qomariyah) dan tidak lagi
menggunakan sistem perhitungan Solar (Syamsiyah). Peralihan tersebut
terjadi pada tanggal 1 Sura tahun Alip 1555 (tahun Jawa), sedangkan
perputaran tahunnya diubah per windu 8 tahun.[25]
Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Dalam sistem kalender Jawa,
siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari
seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung yang berusaha keras
menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dalam kerangka negara Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu
kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender qamariah atau lunar,
namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H).
Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. Hal ini dilakukan demi asas
kesinambungan. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.
2. Pemikiran Penanggalan Jawa
Pada tahun 1633 M bertepatan dengan tahun 1043 H atau tahun 1555 Soko, Sri
Sultan Muhammad yang terkenal dengan Sultan Agung Anyokrokusumo yang bertahta di
mataram, mengadakan perubahan dalam sistem penanggalan Jawa. Perubahan itu
menyangkut sistemnya tidak lagi berdasarkan pada peredaran matahari melainkan
didasarkan pada peredaran bulan disenyawakan dengan sistem perhitungan tahun
hijriyah, sehingga nama-nama bulan ditetapkan dengan urut-urutan sebagai
berikut; Suro, Sapar, Mulud, Bakdomulud, Jumadil Awal, Jumadilakir, Rejeb,
Ruwah, Poso, Sawal, Dulkangidah( selo), dan Besar. Sedang tahunya masih
menggunakan tarikh Jawa yaitu tahun Soko. Disamping itu terdapat juga sistem
perhitungan yang berbeda, Bulan-bulan ganjil berumur 30 hari. Sedangkan
bulan-bulan genap berumur 29 hari, kecuali bulan ke 12 (besar) berumur 30 pada
tahun panjang. Satu tahun berumur 354,375 hari ( 354 3/8 hari), sehingga daur (
siklus) penanggalan Jawa ini selama 8 tahun ( 1 windu) , dengan ditetapkan
bahwa pada urutan tahun ke 2, 5 dan 8 merupakan tahun panjang ( Wuntu = 355
hari ). Sedangkan lainya merupakan tahun pendek ( Wastu = 354 hari).[26]
Urut-urutan tahun dalam
satu windu itu diberi lambang dengan huruf Arab abjadiyah, yaitu:
-
tahun
pertama
= Alip ( ﺍ )
-
tahun kedua
= Ehe ( ﻫ )
-
tahun
ketiga
= Jim Awal ( ﺝ )
-
tahun
keempat
= Ze ( ﺯ )
- tahun
kelima = Dal ( ﺩ )
- tahun
keenam =
Be ( ﺏ )
- tahun
ketujuh = Wawu ( ﻭ )
3. Sistem Perhitungan Penanggalan Jawa
1) ketentuan umum
a) tahun jawa islam = tahun hijriyah + 512
b) satu windu = 8 tahun = 2385
c) tahun panjang (wuntu) jatuh pada urutan ke 2, 5, dan 8.
d) Selisih 1 suro 1555 J dengan 1 muharram 1 H = 369251 hari.
e) Selisih 1 suro 1555 J dengan 1 januari 1 M = 596267 hari.
f) Tahun 1555 sampai dengan 1626 J adalah A’ahgi (tahun alip jum’at legi)
g) 1627 sampai dengan 1746 J adalah Amiswon (tahun alip kamis kliwon).
h) Tahun 1747 sampai dengan 1866 J adalah aboge (tahun alip rebo wage).
i)
Tahun 1867 sampai
dengan 1986 Jadalah asapon (tahun alip slasa pon).
j)
Tahun 1987 sampai dengan
2106 J adalah anenhing (tahun alip senin pahing).
Untuk mengetahui nama
tahun serta nama hari dan pasaran pada tanggal 1 suro tahun tertentu, maka
dapat diketahui dengan cara tahun yang bersangkutan dikurngi 1554 kemudian
dibagi 8.[28]
Contoh perhitungan :
Menghitung tanggal 1
suro 1937 J.
1937
1554 _
383 : 8 = 17 sisa 7
Sisanya dicocokkan pada
jadwal berikut ini :
JADWAL TAHUN JAWA
Sisa
|
NAMA TAHUN
|
Hr
|
Ps
|
1
|
Alip
|
1
|
1
|
2
|
Ehe
|
5
|
5
|
3
|
Jim awal
|
3
|
5
|
4
|
Ze
|
7
|
4
|
5
|
Dal
|
4
|
3
|
6
|
Be
|
2
|
3
|
7
|
Wawu
|
6
|
2
|
0
|
Jim akhir
|
3
|
1
|
KETERANGAN
Nama tahun ditunjukkan
oleh kolom nama, tahun sesuai sisa pembagian 3 diatas. Sedang nama hari dan
pasaran untuk tanggal 1 suro tahun ybs ditunjukkan oleh angaka pada kolom Hr
(hari) dan Ps (pasaran) yang dihitung mulai dari hari dan pasaran pada tahun
alipnya.[29]
Pada contoh ditas sisa 7
(lihat jadwal diatas) nama tahun adalah wage. Sedang harinya adalah pada urutan
6 dan pasarannya pada urutan 2 tahun 1937 termasuk alam kelompok Asapon (tahun
alip selasa pon), sehingga tanggal 1 suro 1937 J jatuh pada urutan ke 6
dihitung dari hari selasa , yakni “ahad”, serta pasaran pada urutan ke 2 dihitung mulai pon, yaitu “wage”. Dengan
demikian, tahun 1937 adalah tahun wantu yang 1 suronya jatuh pada hari Ahad
Wage. [30]
Penanggalan Tahun 1937 Jawa
No
|
Bulan
|
Hari
|
Pasaran
|
||
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
|
1 suro
1 sapar
1 bukud
1 bakkodomulut
1 Jumadilawal
1 jumadil akhir
1 rejeb
1 ruwah
1 poso
1 syawal
1 dulkangidah
1 besar
|
1
3
4
6
7
2
3
5
6
1
2
4
|
Ahad
Selasa
Rabu
Jumat
Sabtu
Senin
Selasa
Kamis
Jumat
Ahad
Senin
Kamis
|
1
1
5
5
4
4
3
3
2
2
1
1
|
Wage
Wage
Pon
Pon
Pahing
Pahing
Legi
Legi
Kliwon
Kliwon
Wage
Waage
|
JADWAL PENANGGALAN JAWA
BULAN
|
HR
|
PS
|
BULAN
|
HR
|
PS
|
|
Suro
|
1
|
1
|
Rejeb
|
3
|
3
|
|
Safar
|
3
|
1
|
Ruwah
|
5
|
3
|
|
Mulud
|
4
|
5
|
Poso
|
6
|
2
|
|
Bakdomulud
|
6
|
5
|
Sawal
|
1
|
2
|
|
Jumadilawal
|
7
|
4
|
Dulkangidah
|
2
|
1
|
|
Jumadilakhir
|
2
|
4
|
Besar
|
4
|
1
|
E. KONVERSI TANGGAL
Konversi tanggal atau perbandingan tarikh atau dikenal pula dengan
tahwilus sanah adalah cara untuk mengetahui persamaan tanggal dari suatu
penanggalan dengan penanggalan yang lainnya, misalnya antara masehi dengan
hijiriah.ketentuan bahwa penanggalan masehi lebih dahulu 227016 hari dari pada
penanggalan hijiriyah.[31]
Konverensi tanggal dari hijiriyah ke masehi sangat diperlukan
untuk hisab awal bulan hakiki, khususnya sistem newcomb,ephemeris,almanak
nautika,dan jean meeus karena data astronomis yang disajikannya menggunakan
penanggalan masehi.[32]
1. Masehi ke Hijriyah
a) tentukan tanggal masehi yang di kehendaki.
b) hitung jumlah hari dari tanggal 1 januari 1 masehi sampai tanggal yang
dikehendaki seperti cara diatas (penanggalan masehi).
c) jumlah hari di kurangi koreksi gregorious
d) sisanya dikurangi lagi 227016 hari.
e) hitung berapa daur,yakni hasil pengurangan tersebut dibagi 106031
f) hitung berapa hari (A) dari jumlah daur yang ada.
g) hitung berapa tahun dalam kelebihan hari tersebut dan masih lebih berapa
hari (B) lagi.
h) hitung ada berapa bulan dalam kelebihan hari (b) dan masih ada kelebihan
berapa hari lagi.[33]
Contoh : tanggal 17
agustus 2004 M bertepatan dengan tanggal berapa menurut kalender
Hijiriyah?[34]
Jawab : tanggal 17
agustus 2004 M (17-08-2004M)
Waktu yang dilalui 2003
tahun,lebih 7 bulan,lebih 15 hari atau (2003:4) =500 siklus,lebih 3 tahun,lebih
7 bulan, lebih 17 hari
500
siklus = 500 x 1461 hari = 730500 hari
3 tahun =
3 x 365 hari = 1095 hari
7 bulan = 213hari
17 hari = 17 hari +
jumlah = 731812 hari
koreksi gregorius = 10 +
3 = 13 hari –
731812 hari
Selisih masehi-hijriyah = 227016 hari –
504786 hari
504796 : 7 = 72113, lebih 5 = selasa (mulai jum’at)
504796 : 5 = 100959, lebih dari 1 = legi (mulai legi)
504796 : 10631 = 47 daur, lebih
5139 hari
47 daur = 47 x 30
tahun = 1410 tahun
5139 hari = 14 tahun,
lebih 178 hari
178 hari = 6 bulan
lebih 1 hari
Waktu yang dilewati sampai
tanggal tersebut menurut kalender hijriyah adalah 1424 tahun (1410 + 14), lebih
6 bulan, lebih 1 hari. Jadi tanggal 17 agustus 2004 M = 1 rajab 1425 H (selasa
legi)[35]
2. Hijriyah Ke Masehei
a)
Tentukan tanggal
hijriyah yang dikehendaki.
b)
Hitung jumlah hari dan
tanggal 1 muharram 1 hijriyah sampai tanggal yang dikehendaki seperti cara
diatas (penananggalan hijriyah)
c)
Jumlah hari ditambah
227016 hari.
d)
Ditambah lago koreksi
gregorius ( 10 + . . .)
e)
Hitung berapa daur,
yani hasil pengurangan tersebut dibagi 10631
f)
Hitung lebih berapa
hari (A) dari sejumlah daur yang ada.
g)
Hitung berapa hari dalm
kelebihan tersebut dan masih lebih berapa hari (B) lagi.
h) Hitung ada berapa bulan dalam kelebihan hari (B) dan masih sisa berapa
lagi.[36]
Contoh : tanggal 12 rabi’ulawal 1425 H. Bertepatan tanggal berapa menurut
masehi ?
Jawab : tanggal 12 rabi’ul awal 1425 H (12-03-1425 H) waktu yang dilalui =
1424 tahun, lebih 2 bulan, lebih 12 hari. Atau (1424:30) = 47 daur, lebih 14
th, lebih 2 bl, lebih 12 hari
47 daur = 47 x 10631 hari =499657 hari
14 tahun = (14 x 354 ) + 5 hari = 4961 hari
2 bulan = (2 x 29 ) + 1 hari = 59 hari
12
hari = 12 hari +
Jumlah = 504689 hari
Selisih masehi-hijriyah = 227016 hari
Koreksi gregorius = 10 + 3 hari =
13 hari
+
731718 hari
504689 : 7 = 72089, lebih 3 = ahad (mulai jun’at)
504689 : 5 = 100937, lebih 4 = wage ( mulai legi)
731718 : 1461 = 500 siklus,
lebih 218 hari
500 siklus = 500 x 4 th = 2000 tahun
1218 hari = 1218 :365 =3 tahun, lebih 123 hari
123 hari = 4 bulan, lebih 2 hari
Waktu yang dilewati sampai tanggal tersebut menurut
penananggalan masehi adalah 2003 tahun (2000 + 3 ), lebih 4 blan, lebih 3 hari.
Jadi tanggal 12 rabi’ul awal 1425 H = 2 mei 2004 M (ahad wage)[37]
Daftar pustaka
Aliy Muh. Choeza, Pelajaran Hisab Istilah Untuk Mengetahui Penanggalan
Jawa Islam Hijriyah dan Masehi, Semarang: Ramadhani, 1977
Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama, Al manak hisab rukyat, Jakarta:proyek
pembinaan badan peradilan agama islam, 1981
Harun M.Yusuf , pengantar ilmu falak Banda Aceh:yayasan
pena, 2008
Khazin Muhyiddin, Ilmu falak dalam teori dan praktek, yogyakarta:buana
pustaka, 2004
MUI Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalender Islam Sultan Agung adalah
Kalender Nasional, (Yogyakarta : Offset, 1987
Tanjung Dhiauddin, Pengantar Ilmu Falak dan aplikasinya
Medan:panjiaswaja pres, 2014
Tanjung Dhiauddin, Marpaung Watni, ilmu falak teori dan tekhnik
aplikasi, Medan:wal ashri publishing,2013
http://taqwimunick.blogspot.com/
(11/10/2014, 17:02)
http://rizkimukaromah.blogspot.com/2011/11/makalah.html
(11/10/2014, 17:17)
[1] Badan Hisab
dan Rukyat Departemen Agama, Al manak hisab rukyat, (Jakarta:proyek
pembinaan Badan Peradilan Agama Islam,
1981), Hal. 42
[2] Dhiauddin
tanjung, Watni marpaung, Ilmu Falak Teori Dan Tekhnik Aplikasi, (Medan:Wal
ashri publishing,2013), Hal. 49
[3] Ibid, Hal.52
[4] Ibid, Hal.54
[5] Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam
Teori Dan Praktek, (Yogyakarta:Buana Pustaka, 2004), Hal,103
[6] M. Yusuf Harun, Pengantar Ilmu Falak (Banda
Aceh:Yayasan Pena, 2008), Hal. 87-88.
[7] Dhiauddin Tanjung, Watni Marpaung, Ilmu
Falak Teori dan Tekhnik Aplikasi, Hal. 54.
[8] ibid, Hal. 57
[9] Muhyiddin khazin, Ilmu Falak Dalam Teori
Dan Praktek, Hal.110
[10] Dhiauddin Tanjung, Pengantar Ilmu Falak
Dan Aplikasinya (Medan:Panjiaswaja Press), 2014, Hal. 42-43.
[11] Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Teori
Dan Praktek, Hal. 110
[12] Ibid. Hal. 111
[13] Dhiauddin Tanjung, Pengantar Ilmu Falak
Dan Aplikasinya, Hal.59
[14] ibid, Hal. 47
[15] Ibid, Hal.58
[16] Ibid, Hal.59
[17] Dhiauddin Tanjung, Watni Marpaung, Ilmu
Falak Teori dan Tekhnik Aplikasi, Hal. 49
[18] Ibid, Hal. 52
[19] Muhyiddin khazin, Ilmu Falak Dalam Teori
dan Praktek, Hal.104-105
[20] Dhiauddin Tanjung, Watni Marpaung, Ilmu
Falak Teori dan Tekhnik Aplikasi, Hal. 54
[21] Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Teori
Dan Praktek, Hal.105
[22] Ibid. Hal.105-106
[23] Ibid.Hal.116
[24] MUI Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalender
Islam Sultan Agung adalah Kalender Nasional, (Yogyakarta : Offset, 1987),
Hal.12
[25] Muh. Choeza’i Aliy, Pelajaran
Hisab Istilah Untuk Mengetahui Penanggalan Jawa Islam Hijriyah dan Masehi,
(Semarang: Ramadhani, 1977), Hal.6
[26] Muhyiddin khazin, Ilmu Falak Dalam Teori
dan Praktek, Hal.116-117
[27] Ibid. Hal.117
[28] Ibid. Hal.118
[30] Ibid.Hal.119
[31] Ibid.Hal.120
[32] Ibid.Hal.120
[33]
Ibid. Hal.121
[34] Ibid. Hal.121
[35] Ibid.Hal.122
[36] Ibid.Hal.122
[37]
Ibid.Hal.123
Tidak ada komentar:
Posting Komentar